Karena Ilmu dan Keyakinan

Standard

Setelah kisah : Why do we read Quraan?, sebuah kisah menyentuh kalbu hingga Upin berkomentar “Subhanallah….what a nice story ka Ros…..” Kali ini saya kembali memposting cerita inspiratif dan menyentuh kalbu yang juga saya peroleh dari e-mail. Daripada terpuruk di inbox saya maka lebih baik saya posting disini agar dapat dinikmati lebih banyak orang. Kisah ini mengenai Sholat Dluha.

Ada seseorang yang butuh kejadian sesuatu, yang kemudian  mengantarkannya kepada Allah. Ada juga yang cukup dengan ilmu dan keyakinan yang mendorongnya beribadah, tunduk dan patuh kepada Allah. Dua-duanya istimewa. Yang salah adalah yang tidak bergeming, tidak beribadah; baik dengan ilmunya, maupun pengalamannya.

Berikutnya, kisah seorang yang melakukan ibadah, sebab didahului oleh ilmu dan keyakinan. Adalah Iwan, sebut begitu, seorang karyawan di sebuah perusahaan otomotif. Ia mendengar kuliah dhuha pagi itu di kantornya, bahwa shalat Dhuha 6 rakaat punya fadhilah,“Allah akan mencukupkan rezekinya.” Saya yang menjadi guru tetap di pengajian bulanan tersebut bertutur kira-kira begini, “Kalo kita percaya sama Allah, kita kudu percaya akan petunjuk-Nya. Salah satunya ketika Allah dan Rasul-Nya bicara tentang petunjuk bagaimana mencari rezeki. Dalam banyak bab “Mencari Rezeki”, salah satu yang dijadikan jalan pembuka pintu rezeki adalah shalat Dhuha. Allah bilang lewat Rasul-Nya dalam sebuah hadits qudsi, “Dari Rasulullah Saw, Allah Swt berfirman, ‘Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat di awal siang (dhuha), maka akan Aku cukupkan bagimu siangmu.” (Hadits qudsi diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

 

Begitulah saya memotivasi para mustami’ (pendengar majelisnya) agar mereka mau berkenan shalat Dhuha. Saya yang menyodorkan janji Allah dan Rasul-Nya sebagai dorongan beribadah mengatakan, bahwa tidak usah takut mengerjakan shalat Dhuha lantaran janji dan dorongan Allah dan Rasul-Nya ini. Inilah yang disebut KEUTAMAAN. Bukankah orang yang percaya sama Allah dan Rasul-Nya disebut orang yang beriman? Sedangkan iman itu apa sih? Iman itu’kan percaya. Maka ketika Allah dan Rasul-Nya menyeru dengan memberi dorongan sejumlah keutamaannya, maka inilah kiranya kebaikan Allah dan Rasul-Nya dan kebaikan seseorang yang beriman yang percaya sama kalam Allah dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan shalat Dhuha, di dalam majelis di kantor tersebut, saya kemudian mengatakan ini, “Ketika seseorang shalat Dhuha 6 rakaat, Allah punya kalam lain,“Siapa yang shalat Dhuha 6 rakaat, Allah akan mencukupkan kebutuhannya hari itu.” Selanjutnya saya memotivasi, “Jika di antara saudara yang hadir di sini percaya,  lalu punya kebutuhan, punya hajat, dan dia berkenan shalat Dhuha 6 rakaat, percayalah insya Allah janji Allah ini benar-benar akan terwujud.” Alhamdulillah. Di antara jamaah yang hadir, ya Iwan itu.

 

Iwan mendengar perkataan saya, “Kejar target, kejar kebutuhan yang diperlukan dengan mendirikan shalat Dhuha 6 rakaat. Sisihkan waktu. Daripada cape enggak karuan, mending ngorbanin waktu sedikit untuk mengundang janji Allah terbukti di masalah dan hajat kita.” Rupanya termotivasi betul Iwan mendengar hal demikian. Tidak sabar ia menunggu waktu pulang. Waktu itu hari Jum’at. Pengajian saya di sana, saban hari Jum’at pagi keempat tiap bulannya. Ia pengen cepat-cepat pulang. Pengen mengabarkan kepada istrinya ini. Pengajian tadi seakan menjadi solusi baginya, yaitu bagi bayangan kesulitan yang sedang ada di depan matanya.

Memangnya apa kesulitannya Iwan ini?

2 bulan lagi ia punya kebutuhan 7,5 juta untuk biaya studi 3 anaknya. Sebagai karyawan biasa, angka ini besar sekali buat dia. Apalagi dia punya satu dua cicilan utang. Tapi ia tadi pagi mendengar saya berkata, “Dulu, sebelum tahu ilmu dhuha ini, seseorang begitu punya kesulitan, sudah berancang-ancang mencari bantuan dan pertolongan orang lain. Sekarang, enggak usah. Cari saja pertolongan lewat sisi Allah ini. Nanti Allah yang menyediakan jalanjalan- Nya.”

Iwan mengamini. Memang begitu. Ia dulu bukan saja sekadar berancang-ancang mencari bantuan. Tapi ia bahkan sudah berjalan mencari bantuan itu! Ke sana kemari. Ketemu enggak?

Enggak!

Makanya, ketika dapat pencerahan pagi itu, ia bahagia sekali. Ia tahu kesalahannya kini. Ia cari bantuan orang lain tapi tidak mencari Allah, Pemilik segala bantuan yang diinginkan. Ia tahu kesalahannya. Langkah ia tetapkan untuk mencapai dan mengejar apa yang menjadi kebutuhannya. Tapi karena ia mencari tanpa ilmu, tanpa pengetahuan bahwa ada cara mudah dan cepat, yaitu menyandarkan pada kekuatan Allah, ia punya langkah tak jelas. Kini, dengan shalat Dhuha ia percaya langkahnya ini menjadi jelas. Sebab jelas juga yang ia tuju; ridha dan pertolongan Allah melalui shalat Dhuha.

”Katakanlah, ‘Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. az- Zumar: 44)

Subhanallah! Mudah-mudahan kita berkeyakinan seperti yakinnya Iwan ini. Sesampainya di rumah, bertuturlah Iwan kepada istrinya sebagaimana saya bertutur untuk dirinya. Iwan lalu meminta istrinya itu menemaninya shalat Dhuha. Ia shalat di kantor di sela sela kesibukannya. Istrinya shalat di rumah. Dhuha yang diambilnya 6 rakaat, dengan keyakinan bahwa inilah cara yang benar yang insya Allah menjadi jalannya menutup 7,5 juta. Saudaraku, kita coba berhenti sejenak.

Sampe sini, banyak orang yang menyalahkan dengan mengeluarkan ungkapan, “Shalat Dhuha kok untuk uang…? Untuk kebutuhan… ?” Begitu’kan?

Banyak yang menyalahkan pencari pertolongan Allah lewat ibadah.

Tapi terserahlah. Masing-masing punya pendapat. Yang penting, jika saudara hanya berdebat, maka kebesaran Allah tidak akan terjadi. Silahkan sibuk saja terus berdebat. Tidak usah melakukan. Akan halnya Iwan, karena ia melakukannya dengan segenap keyakinan atas informasi (ilmu) yang didapatnya, maka ilmu dan keyakinannya, bekerja! Keajaiban pertolongan Allah benar-benar terjadi!

Hanya selang dua minggu ia melakukan, jawaban untuk dana yang ia butuhkan ia dapati. Ya, hanya 2 minggu! Unbelieveable!

Iwan lapor kepada saya di pengajian Jum’at berikutnya, alias di empat pekannya kemudian. Bahwa ia tidak berhenti sampe di situ. Ia terus meminta istrinya meneruskan riyadhah lewat shalat Dhuha ini untuk masalahnya yang lain, di luar masalah yang 7,5 juta untuk anggaran pendidikan anak-anaknya.

Hebat! Saya mengatakan hebat. Banyak orang yang tidak percaya, Iwan percaya. Ketika seseorang melakukan apa yang diseru Allah dan Rasul-Nya, lalu tatkala Allah membuktikan kebenaran janji-Nya, orang tersebut berhenti sampai di situ, alias tidak meneruskan lagi menjadi sebuah pekerjaan yang di-dawam-kan. Sedangkan Iwan? Dia malah meneruskan.

Hebat! Ya hebat.

Memang apa masalahnya Iwan yang lain? Ada lagi?

Namanya juga manusia. Kalau mau jujur, masalahnya pasti banyak. Rupanya Iwan punya utang 50 juta. Ia lumayan pening dengan urusan ini. Otaknya enggak aja memikirkan yang 50 juta ini. Sebab sebelumnya, yang 7,5 juta enggak tahu bagaimana ngurusinnya. Karenanya ketika ia berdecak kagum akan dhuha ini, untuk urusan 7,5 jutanya, ia meneruskan dhuhanya tersebut untuk urusan 50 jutanya. Ia yakin, kali ini pun ia pasti berhasil. Caranya sama, Tuhannya sama, masa iya enggak berhasil. Di depan jamaah lain yang mendengar testimoni Iwan, lagi-lagi saya mengatakan hebat.

“Seseorang yang melakukan tanpa ilmu dan tanpa keyakinan saja, insya Allah ia akan tetap merasakan fadhilah (keuntungan) amal, apalagi yang melakukannya sebab ilmu, sebab yakin, dan sebab pengalaman. Pasti bertambah subhanallah dah,” tutur saya menimpali. Itulah yang memang terjadi. Iwan bercerita, bahwa 50 juta itu ia dapatkan sebelum genap ia ketemu Jum’at yang keempat. Alias ia mendapatkan jawaban atas kebutuhannya itu, juga dalam waktu kurang 2 minggu! Jarak tempuh pencapaian target hanya 2 minggu sejak ia tetapkan dirinya untuk menempuh jalan shalat Dhuha 6 rakaat.

Untuk yang satu ini, saya memiliki komentar yang menarik. Kata saya, percepatan itu terjadi sebab Iwan mengerjakannya tidak sendirian, melainkan bersama-sama istrinya. Ibarat memakai kaki untuk berjalan, Iwan memakai kaki yang lengkap, kiri dan kanan. Jelas lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang berjalan dengan satu kaki. “Jadi, buat saudara yang kepengen mencapai target kebutuhan rumah tangga dan usahanya, jangan lakukan sendirian. Jalankan bersama-sama istri atau suami masing-masing. Kalau perlu, bersama-sama satu tim, satu divisi, satu kelompok, bersama karyawan, dan seterusnya. Pokoknya jangan sendirian.” “Buat yang hidupnya memang sendirian gimana Ustadz?” tanya salah satu jamaah. “Pikirkan saja cara-cara yang ia bisa melakukannya bersama yang lain. Misalnya, menjamu kawan kosnya yang beda tempat, sarapan bersama. Lalu utarakan tentang fadhilah dhuha 6 rakaat, dan kemudian lakukan bersama-sama. Atau undang anak-anak yatim sekitar yang sekolahnya siang. Jamu mereka, dan lakukan shalat Dhuha bersama. Insya Allah larinya bakal cepat.”

Tidak lupa saya mengingatkan walau bersama-sama, tapi tetap dengan niat “sendiri sendiri” , bukan berjamaah.

Nah, di akhir cerita, Iwan mengaku, “Insya Allah Ustadz, saya akan tetap menjaga niat, untuk melakukan dhuha bukan karena masalah dan keinginan, tapi karena Allah semata.” Terhadap kalimat yang kayak begini, Luqman mengoreksi, “Jangan berkurang keyakinan Wan. Yakini apa yang sudah terjadi sebagai sebuah kebenaran. Banyak orang yang tidak tahu, Iwan tahu. Banyak orang yang tidak yakin, Iwan yakin. Banyak orang yang gelap bagaimana menyelesaikan masalahnya, bagaimana menjawab keinginannya, Iwan mengetahui kunci-kuncinya. Masa’kan lalu Iwan membungkusnya dengan kalimat “yang benar” tapi “tidak tepat” seperti itu. Tidak Wan. Tidak ada yang salah dengan yang Iwan lakukan sehingga Iwan perlu mengatakan bahwa Iwan akan menjaga niat untuk melakukan hanya karena Allah. Tidak perlu! Itulah kepercayaan orang yang beriman. Kepercayaannya bekerja. Bekerja menjadi keajaiban. Satu yang Iwan perlu lakukan adalah tambah rasa syukurnya dengan tetap melakukan ibadah dhuha 6 rakaat tersebut tanpa perlu ada masalah dan keinginan. Sedangkan bila Iwan ada lagi masalah dan keinginan, maka itulah yang disebut iman, yaitu Iwan membawanya lagi kepada Allah dengan cara melakukan petunjuk- Nya.”

Saudaraku, tulisan bagian ini ditulis dan dimasukkan ke dalam buku “THE MIRACLE”. Di mana di buku ini dikupas secara mendalam filosofi amal perbuatan yang dilakukan dengan berdasarkan ilmu, keyakinan, dan pengalaman, hingga kemudian diistiqamahkan atau didawam– kan. Maka ketika saudara tidak menghentikan riyadhah saudara, maka percayalah, keajaiban akan terus menerus terjadi! Insya Allah.

Percaya dengan janji dan kalam Allah dan Rasul-Nya, inilah yang disebut iman yang sempurna. Tambah sempurna dengan menyempurnakan iman menjadi berwujud amal shaleh.?

***

Percuma mencari segala teori penyelesaian hidup, jika Yang Maha Segala tidak menghendaki.

***

Bentuk konritnya tentu saja ada. Di antaranya saya berusaha keras memperbaiki rundown hidup saya dulu yang selama ini salah. Ya, urut-urutan kita menjalani hidup ini, salah. Dan emang urusan sama Allah mah kayak tebalik balik. Mestinya tengah malam atau di penghujung malam enak-enak tidur, kita disuruh bangun. Pagi-pagi disuruh ngegetolin nyari duit, ini merilekskan badan dan pikiran dulu buat dhuha. Di saat-saat sedang sibuk, ada zuhur sama ashar. Ketika dapat duit, maka disuruh ngeluarin lagi sebagiannya. Padahal di saat yang sama, kita malah kepengennya kan bertambah, bukan berkurang. Beginilah hidup seorang mukmin, seorang yang percaya sama Allah. Dia tunduk dan patuh kepada Allah dan terhadap aturan-aturan- Nya, dan inilah Islam; aslama yuslimu, islaaaman, berserah diri, tunduk dan patuh kepada Allah dan ajaran-ajaran- Nya. Pelakunya disebut muslim (faa’il/subject) . Nyatanya? Di kehidupan sehari-hari? Kita kurang ikhlas ngejalanin hidup ini. Kita ga sabar ngejalanin ibadah. Kita pun malah menjadikan ibadah-ibadah menjadi beban. Ada yang hanya kemudian menjalankan wajibnya saja, dan wajib itupun dijalankan tidak dengan sepenuh hati.

Saya menyebut saya menjalani kehidupan yang salah, sebab itu hidup saja jadi jauh dari Allah.

Bagaimana salahnya? Di mana salahnya?

Begini, setiap mukmin, mestinya memulai harinya dari bangun di pertengahan malam, di dua pertiga malam, atau di sepertiga malam yang terakhir. Bangun untuk apa? Untuk tahajjud, untuk sujud kepada Allah Yang Maha Rahman. Allah menyebut mereka sebagai hamba-Nya jika kemudian kita semua bisa “yabiituuna lirobbihim sujjadaw wa qiyaamaa”, di tengah malam bisa sujud dan ruku di hadapan Allah. Wadz-kurisma rabbika bukrataw washiilaa, kita bisa mengingat Allah di saat pagi dan petang. Coba saja benahin tahajjudnya, niscaya garis hidup akan lurus lagi dengan sendirinya.

 

-Ust Yusuf Mansyur.- kuliah onlinse wisatahati

4 thoughts on “Karena Ilmu dan Keyakinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s