Main Sikat – Main Embat

Standard

Wah….istilah ini biasanya muncul kalo dalam kondisi kepepet , udah aja main sikat main embat, kagak mikirin efeknya kemudian, kebanyakan sih hasilnya gak bagus, percaya deh, saya pernah ngalamin hal ini……bahkan AMPE TIGA KALI……keledai banget ya, jatuh di lubang yang sama. Alhamdulillah-nya, saya dikasih kesempatan Allah untuk terlepas dari efek negatif ini dan mendapat kesempatan untuk nggak lagi jatuh di lubang yang sama……….

Kebodohan itu saya lakukan dalam memilih pasangan. Bisa dibilang saya adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta, tapi mudah untuk dicintai, kadang hal ini menjadi anugerah buat saya -karena yang namanya dicintai membuat kita merasa nyaman dan bahagia- tapi ini juga jadi musibah, tatkala ada yang mencintai saya begitu dalam, namun saya tidak punya perasaaan spesial apapun terhadapnya…….tidak tega untuk menolak, tapi juga tidak bisa untuk menerima. But show must go on, dalam kondisi tertentu rasa tega itu harus dimunculkan agar tidak menyakiti kedua pihak secara berlarut-larut.

Hingga saat ini, sudah ada tiga orang yang menjadi korban main sikat-main embat saya. Korban pertama saya adalah senior saya, seorang peneliti handal, saat ini dia telah mendapatkan beasiswa dan meneruskan pendidikannya di Spanyol, merintis jalannya sebagai peneliti Indonesia di bidang arkeologi. Saat itu saya kuliah tingkat dua, saya butuh pasangan karena sahabat2 saya saat itu sudah memiliki pasangan, hingga kebersamaan diantara kami mulai berkurang, saya sering ditinggal sendiri. Saya sikat dia dengan pertimbangan dia setia mendekati saya sejak awal saya kuliah, selain itu, dia memiliki wawasan luas dalam bidang arkeologi dan saat itu dia sedang bertarung mengambil beasiswa S2, denger2 isu dari para dosen, dia punya kesempatan besar untuk lolos, kayaknya MDC nih masa depan cerah, selain itu dia juga bisa meringankan saya menyerap ilmu arkeologi yang buat saya ‘untouchable’ . Setahun pertama saya jalani dengan kenyamanan, saya bahagia, selalau merasa dicintai olehnya, diperlakukan bak seorang putri impian-nya, dia selalu bisa memahami saya……tanpa saya sadari, saya tidak pernah berusaha memahami dia, hingga menginjak tahun kedua, perhatiannya banyak berkurang, hal ini menimbulkan ketidakpuasan dan kekecewaan pada diri saya, hubungan kami penuh konflik dan semakin membosankan, hingga akhirnya dia berpaling pada seseorang yang lebih bisa mencintai dirinya, seseorang yang penuh ketulusan memberikan perhatian dan kasih sayangnya…….

Hal ini tidak membuat saya jera, korban main sikat-main embat saya selanjutnya adalah seorang editor di salah satu production house . Kami berkenalan saat PH tempat dia bekerja ada proyek dengan perusahaan tempat saya bekerja, saya sebagai kordinator proyek tersebut banyak berkomunikasi dengannya, setelah proyek berakhir, dia masih melanjutkan komunikasi dengan saya, buat saya dia masuk ke kategori good looking  , hingga akhirnya saya menerima dia dengan pertimbangan good looking- nya dia dan juga saya udah kelamaan jomblo juga, kata hati saya bilang embat aja . Perkenalan kami berlangsung singkat, hanya satu bulan, jujur…….saya berpacaran dengan orang yang benar2 asing. Setahun pertama tidak ada masalah, dia selalu ada untuk saya dan bisa memahami saya, saya menikmati rasanya dicintai, tapi saya kembali lengah untuk mencintai dia, hingga secara tiba-tiba dia meninggalkan saya dengan alasan saya tidak bisa menerima dia apa adanya, terlalu banyak tuntutan dan penindasan baginya…….Astaghfirullah……..hingga saat ini dirinya menghilang dari hidup saya, tidak ada lagi komunikasi antara kami.

Korban main sikat-main embat selanjutnya adalah ex teman SMP saya……..Saya pernah sekelas dengannya, dia termasuk teman yang bandel, sering mencontek, nongkrong bareng teman2nya dan bahkan kadang bolos sekolah, bisa dibilang bukan teman dekat-lah, hanya kenal saja. Saat itu saya merasa panik karena usia makin tua, banyak orang mulai menanyakan kapan saya mengakhiri masa lajang saya, prinsip saya saat itu – siapa cepat dia dapat- maka saat teman saya itu menyatakan perasaannya, saya langsung katakan "okay….". Hubungan paling singkat yang saya jalani, dia orang yang membosankan dan begitu melelahkan, wawasannya tidak luas, selain itu juga begitu banyak hal mencurigakan dalam hubungan kami, hingga akhirnya saya melakukan shalat istikharah untuk memutuskan, apakah hubungan ini sebaiknya diteruskan atau tidak……terus terang saya adalah orang yang anti memutuskan hubungan, apapun kondisi pasangan saya berusaha terima, karena buat saya rasa itu kadang naik dan kadang turun, namun kesetiaan dan komitmen yang membuat suatu hubungan tetap berjalan, diiringi komunikasi agar hubungan tetap berjalan dengan sehat. Alhamdulillah, Allah menjawab istikharah saya, saya terlepas dari dia dan tanpa saya yang harus memutuskan, sepertinya dia juga merasakan ketidaknyamanan dalam hubungan ini dan itu membuat dia tidak ingin meneruskan hubungan ini.

Kini saatnya untuk saya tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Tidak lagi main sikat-main embat, saya tidak ingin terburu-buru menerima seseorang menjadi pasangan saya. Saya ingin mendapatkan pasangan seumur hidup yang saya cintai karena Allah. Saya yakin Allah masih menyimpan pasangan terbaik untuk saya, dan memberikannya saat saya telah siap untuk berbagi. Sambil menanti pasangan terbaik itu, saya coba untuk memperbaiki diri saya, karena proses menjadi lebih baik butuh waktu sedangkan keputusan untuk menjadi lebih baik bisa saya lakukan SEKARANG.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s