Psikologi Kematian


Innalillahi…….Too much street accident @ this month. Awalnya tragedi tugu tani yang menewaskan 9 orang, lanjut dengan bus yang remnya blong di cisarua dan ada lagi di majalengka, jawa timur dan daerah lainya…….
Memang kematian bisa menjemput kita kapan saja dan dimana saja. Bahkan penjual bakso yang letak kiosnya tidak persis di pinggir jalan pun bisa terenggut naywanya tertabrak oleh bus yang rem-nya blong, apakah salah sopir bus? atau salah letak iosnya? tidak tahu lah yaaaa, yang pasti kematian itu takdir, kita harus siap menghadapinya.
Berikut sekelumit ringkasan dari buku berjudul Psikologi Kematian, saya rasa baik untuk di simak agar kita bisa menyiapkan diri kita agar hidup di dunia ini berakhir dalam husnul khotimah.
Psikologi Kematian : Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Buku ini terbitan Mizan dan ditulis oleh Komaruddin Hidayat, cendekiawan muslim dan juga rektor UIN Syarif Hidayatullah saat ini. Berikut ulasan singkat mengenai isi buku tersebut.

Setiap orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan ke pintu kematian. Pemberontakan dan penolakan akan kematian ini telah melahirkan dua mazhab psikologi kematian. Pertama sebut saja mazhab religius, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai rujukan bahwa keabadian setelah mati itu ada dan seseorang yang religius menjadikan kehidupan akhirat sebagai objek dan target paling tinggi. Apapun yang dilakukan di dunia dimaksudkan sebagai investai kejayaan di akhirat. Mazhab kedua adalah mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin akan adanya kehidupan setelah mati. Bagi yang beriman, keabadian hidup akan selalu dikaitkan dengan janji Tuhan akan balasan di akhirat sehingga mendorong untuk selalu berbuat baik dan menjalani hidup dengan optimis. Sebaliknya yang mengingkari kehidupan akhirat, kenikmatan duniawi merupakan target puincak, namun mereka tetep ingin meninggalkan nama baik agar dikenang sejarah,antara lain dengan mendirikan bangunan,monument, menulis buku dsb.

Sebenarnya, kita mengalami makna lahir dan mati setiap hari dalam hitungan 24 jam. Rasulullah SAW mengajarkan pada umatnya bahwa setiap akan tidur, kita diajak memasuki alam kematian. Bismika allahumma ahya wa amut – Ya Allah, dengan asma-Mu aku menjaani hidup dan dengan asma-Mu malam ini aku mau mati.
Begitu bangun tidur, Rasulullah mengajarkan untuk berdo’a Alhamdulillah alladzi ahyana, ba’da ma amajana, wa ilaihinnusur – Segala puji bagi-Mu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya lepada-Mu nantinya kami semua akan berpulang.
Sedangkan tiap pagi adalah hari kelahiran, begitu bangun tidur, sebuah tawaf kehidupan dimulai, apapun yang kita lakukan harus tetap berkiblat pada Allah dan untuk menjaga agar tidak menjauh dari orbit Illahi, kita diperintahkan untuk mendirikan Shalat 5 waktu sebagai forum pertemuan dengan sang Khalik, karena sebagai agen Tuhan, manusia diberi keunggulan Head, Heart dan Hand yang mampu merubah apa yang ada di bumi. Semua ini bisa bekerja lebih sehat jika dalam operasionalnya sejalan dengan sabda-sabda-Nya.
Dalam menjalani kehidupannya, seringkali manusia dihadapkan dengan ujian dan godaan dalam beragam bentuk. Hijrah menjadi sebuah proses metamorfosis untuk meraih kualitas hidup lebih tinggi. Setiap peristiwa hijrah selalu menjanjikan kemenangan selama kita benar-benar ikhlas dan sadar dalam menjalaninya. Namun sesungguhnya kemenangan kita tidak ada artinya untuk orang lain. Sekarang bayangkan kita sedang berdiri menghadap lautan lepas, lalu lemparkanlah sebuah batu kerikil di tengah lautan, maka yang terjadi adalah adanya cipratan air dan riak kecil yang berlangsung kurang dari satu menit, kemudian menghilang. Kita tidak tahu lagi kemana batu kerikil tadi dan orang lain pun tidak peduli tentang nasib batu kerikil yang dilempar tadi. Peristiwa ini sama seperti keberadaan kita yang terlempar ke dunia, tak ubahnya seperti batu kerikil tadi, terlempar ke ruang semesta yang luasnya tak terjangkau nalar. Kita terlahir, tumbuh kemudian menghilang di telan kematian. Untuk itu, kita perlu renungi apa makna kehidupan ini sebelum kematian datang.

Makna dan harga sebuah kehidupan adalah berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan dan status ekonomi serta nasib akan memengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Maka kata yang paling tepat adalah “Islam” yaitu pasrah, sujud dan takluk serta rindu pada Tuhan.
Mengapa hidup ini sangat berharga? Karena kita mau mati, meskipun hakikat kematian serta apa yang terjadi setelahnya selalu menyimpan misteri yang tidak pernah terungkap. Karena kematian merupakan kepastian, maka secara psikologis pengaruhnya amat besar dalam bawah sadar kehidupan seseorang dan dalam perilaku manusia. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, karena mengingat fasilitas umur kita yang teramat pendek.

Umur memiliki makna positif yang bertalian dengan tingkat produktivitas seseorang. Jalan pikiran ini sejalan dengan konsep dan ajaran “amal jariyah” dalam Islam, siapapun orang yang telah meninggal dunia, orang itu masih berproduksi amalnya jika ia mewariskan keturunan yang shaleh, mewariskan ilmu yang membawa manfaat bagi kemanusiaan dan mewariskan harta benda dan amal yang memberi nilai guna bagi kebajikan agama dan masyarakat. Banyak orang yang telah wafat namun mereka itu seakan masih hidup di tengah-tengah kita karena warisan amalnya. Jika konsep panjang umur berkaitan dengan produktivitas seperti itu, maka kita tidak saja dituntut melakukan kerja keras (hard work), melainkan juga bekerja secara efektif dan cerdas (smart work). Untuk itu perlu badan sehat, ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Dengan kata lain, intelektualitas, profesionalitas, moralitas dan spiritualitas adalah pilar-pilar penyangga dan penyambung mata rantai umur manusia agar seseorang hidup abadi baik dimata sejarah maupun di mata Tuhan. Ruh seseorang tidak mengenal kematian, melainkan hanya berpindah dunia. Jadi nilai yang paling berharga bagi kehidupan ruhani adalah prestasi yang melewati ukuran-ukuran materi.
Manusia merupakan puncak ciptaan Allah dan semesta ini ditundukkan untuk manusia sehingga manusia diberi gelar khalifatullah atau mandataris Allah di muka bumi, maka aktivitas kita sebagai mandataris Allah tetap harus sejalan dengan kehendak yang memberi mandat. Keabadian akan diraih ketika seseorang sanggup keluar dari kurungan “kemarin” dan “besok” lalu masuk dalam kesadaran dan penghayatan secara optimal ke dalam momentum “sekarang” dan “di sini”. Orang yang selalu berpikir tentang masa lalu sehingga mengabaikan hari ini ataupun tenggelam membayangkan hal-hal yang belum terjadi di masa depan sehingga peluang hari ini sirna, berarti dia telah lari meninggalkan ruang keabadian, yaitu momentumn “here and now”. Mungkin di situ terletak rahasia ajaran Rasulullah yang mengatakan bahwa semua tindakan akan sia-sia jika tidak dilandasi dengan niat yang tulus dan benar.

Dengan yakin adanya kehidupan lain setelah kematian, maka kita selalu diajak untuk berpikir mengenai persiapan dan agenda masa depan, karena hidup ini tanpa disadari lebih banyak diarahkan oleh apa yang kita bayangkan dan inginkan agar terjadi di masa depan. Kita mengenal di psikologi istilah insting kematian (death instinct). Yaitu seseorang memiliki firasat akan datangnya kematian dalam waktu dekat. Namun firasat ini biasanya baru disadari setelah kematian tiba. Pertanyaan yang sering muncul, bagaimana kita memahami fenomena ini? Mengapa seseorang sering berperilaku aneh sebelum meninggal? Adakah itu tanda-tanda husnul khatimah sebagai isyarat kebahagiaan akhirat yang telah menanti? Orang yang shaleh dan memperoleh husnul khatimah adalah mereka yang hati dan bibirnya selalu berzikir mengingat Allah ketika sakaratul maut sampai datangnya malaikaty Izrail menjemput ruhnya.

Dalam ajaran Islam, kematian itu selalu diingatkan setiap saat, terutama menjelang tidur. Jika hati senantiasa ingat Allah dan ingat kematian sebagai jalan kedekatan pada-Nya, maka apapun yang dilakukan dan dimanapun berada, di setiap saat dan tempat, sesungguhnya kita tengah menapaki batu bata menuju kematian. Bagaimana penyebab kematian akan dipengaruhi do’a dan pilihan jalur yang kita tempuh. Maka berdo’alah dan titipkan pesan pada Tuhan, jalan apa dan di mana untuk bertemu Izrail, karena pasti Allah mendengarkan permohonan setiap hamba-Nya.

Sebagai pelengkap, saya akan tambahkan 5 pekerjaan menjelang tidur sebagai salah satu cara kita menyerahkan hidup kita pada pemiliknya.
1. Khatamkan Qur’an yang setara dengan membaca Al Ikhlash sebanyak 3 kali, karena nilai Surah Al Ikhlash adalah 1/3 Qur’an.
2. Laksanakan Haji dan Umrah serta ziarah ke makam nabi yang dapat kita lakukandengan bertasbih sebanyak 10 kali.
3. Harapkanlah syafaat dari Nabi dan Rasul dengan membaca shalawat Ibrahimyah sebanyak 3 kali.
4. Bentengi diri dengan bacaan ayat Qursy, Al Falaq dan An Nas masing2 sekali.
5. Minta ampun, istighfar untuk diri kita, orang tua, saudara-saudara kita sesama muslim di dunia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: